Ditulis
Kenapa saya memilih membuat aplikasi kecil
Ada godaan besar saat membangun sesuatu: menambah fitur. Rasanya seperti kemajuan. Padahal yang menentukan sebuah aplikasi dipakai atau ditinggalkan jarang soal jumlah fitur.
Yang saya temukan berulang kali, orang berhenti memakai aplikasi bukan karena kurang canggih, tapi karena satu hal kecil yang menjengkelkan: harus login ulang terus, tampilan yang berantakan di ponsel, atau proses yang butuh terlalu banyak ketukan untuk hal yang sepele.
Jadi ukuran keberhasilan yang saya pakai sekarang sederhana: apakah orang masih membukanya minggu depan tanpa saya ingatkan. Kalau iya, berarti aplikasinya benar. Kalau tidak, menambah fitur tidak akan menolong.
Catatan ini akan saya isi dengan hal-hal semacam itu — pelajaran kecil yang baru terlihat setelah aplikasinya benar-benar dipakai orang lain.